Indonesia’s Highway

FB_IMG_15661155396637624

A 17 August 2019 is a 74th Indonesia’s independence day. After my husband attended a ceremony in his office, we went to kediri to attend wedding celebration of his classmate. We spent about 3,5 hours from Surabaya to Kediri by car through new highway. He just drove with speed 80 km per hour, when the other drivers drove over 80 km per hours (overspeed). Yeah. You will be surprise if seeing indonesian drivers is driving overspeed. And usually they are too proud of their time taking from A to B just x hours faster than before (when the highway had not been developed yet).

Don’t ask me whether the police will stop them about their overspeed or not. You will find them NOT. The police just still sits down and works what they have to do in their officw. That is most of the highway in Indonesia. There are still some of highway that are installed CCTV in some spots. If there is an overspeed car or truck or bus, so the police will stop them in another spot after watching them in CCTV.

Usually, if the drivers don’t want to confront with the justice, they should pay a penalty in the place they are interdicted. After that, maybe the driver never do it again or maybe they still do that. We don’t know.
Yes, in recent years, President of Indonesia, Joko Widodo, developed Trans-Jawa, highways from east to west in Java Island and Trans-Sumatra, highways from north to south of Sumatra Island. It needs funds from Realized State Budget.

Even the toll entrance price is expensive enough but the people still choose highway to save their time when travelling. Service provider of E-money starts developing their business because of the policy. All vehicle entering the tool must pay by using e-toll.

Sadly, trees in the forests had to be cut down to provide land for highways. Some rest areas in new highway still don’t have shady trees. It’s so hot and almost blazing. Maybe you have to bring so many mineral water so as not to be dehydrated.

In other impact, people no longer passed regional road (non-toll road) or maybe just a little driver. Many shops, stores, restaurants, street foods, started losing their costumers. Just a few people shopping in their business. Maybe the next years they will decide to close their business if there will be no a sufficient profit.

Even tough, Indonesia’s transportation system is better than before. There are positif and negative impacts of the highway development.

Bonjour!

Bonjour!

Ca fait longtemps que je n’ecris pas quelque chose en francais. c’est difficile? peut-etre j’ai besoin d’habitude. Alors, vous connaissez Indonesie? un pays dans l’Asie du Sud-Est. Dans quelque jours, precisement, dans six jours, Indonesiens celebrent le jour de l’independance d’Indonesie. Il y a beacoup de lamps etinceles.

 

Harusnya Sekarang Aku Jadi Chef!

Sepertinya pengandaianku berlebihan. Bagaimana tidak, masa SMA kuhabiskan tiga tahun di asrama. Setelah lulus, aku hidup di kos-kosan. Lanjut S2 juga kos. Saat di Prancis pun aku benar-benar mandiri. Sayangnya, semandirinya tinggal jauh dari orang tua, tak cukup membuat banyak waktu untuk memasak sendiri.

Saat di asrama, tiap jam makan sudah disiapin. Saat kuliah, karena sibuk akhirnya beli jadi ke warung-warung. Masak pun hanya sesekali saja jika memang ingin makan sesuatu. Saat S2, karena dapur kosnya mendukung untuk memasak, semangatku memasak cukup tinggi, walaupun masih disibukkan dengan tugas kuliah. Masakan yang berhasik kubuat sepetrti ayam kecap, cumi tumis, cumi asam manis, maupun sayur sederhana seperti sop.

Saat di Prancis, dapur menjadi milikku sepenuhnya, karena saat kos sebelumnya dapur digunakan bersama-sama. Di Prancis, satu kamar langsung digunakan untuk masak, tidur dan kamar mandi. Bagiku, percobaan memasak adalah hal yang menghibur hati. Bagaimana tidak, di negara asing tersebut hampir tidak ada yang menjual masakan indonesia. Dan itu menjadi tantangan tersendiri buatku.

Bumbu yang sangat terbatas, sayuran daerah tropis yang jarang sekalj dijual, membuat ingjn bereksperimen apapun. Bahan yang dibeli dari toko cina pun berbeda. Contohnya kecap, belum pernah aku menemukan kecap manis dan kecap asin disana. Alhasil, hanya beli soya sauce yg mirip kecap dengan rasa yang bercampur manis dan asin. Harganya pun murah. Ada yang kental, tapi harganya mahal.

Yang jelas saat di Prancis, jenis masakanku adalah masakan jawa rumahan. Tepatnya, masakan ibu. Tentu, tidak sesulit yang dibayangkan sebenarnya. Temanku sering sekali masak masakan indo yang benar-benar cita rasa indo. Dia sering masak macam-macam. Kalau aku? Mau beli bahannya saja harus perhitungan banget. Soalnya beasiswaku terbatas, beda dengan temanku.

Lidahku benar-benar lidah jawa. Andaikan saat di Prancis dulu aku bereksperimen masakan eropa, mungkin saja sekarang aku jadi chef jago di Malang. Hehehe.

Dan sekarang, sebenarnya aku bisa bebas berekspresi memasak apapun yang sudah disediakan di kulkas mertua. Tapi aku tidak sembarang bereksperimen, karena aku belum tahu kesukaan mereka apa. Kalau pada nggak doyan, nggak ada yang makan sayang banget dibuang.

Kasian lah suamiku ini. Badannya semakin kurus kerontang, wkakaka.. Ingin rasanya aku memasakkan makanan kesukaannya setiap waktu. Rasa-rasanya tidak mungkin karena aku harus kebal dengan capek, karena masak satu waktu saja sudah capek.